Senin, 18 November 2013

Meski hanya Senyuman Aku cukup Senang



Meski hanya Senyuman Aku cukup Senang
Sosok bayangan menyapa memberiku pesan kebaikan, seketika sesuatu membasahi pipi ini saat melihat bayangan itu pergi. Aku begitu tak ingin kehilangannya. Aku terbangun dengan mata merah bukan karena aku terlalu lama terbaring melepaskan penatnya hari kemarin. Aku terbangun karena aku harus segera menghapus air mata yang tak seharusnya berada di wajah ini. Hari-hariku kini kunikmati dengan pagi dengan air mata, air mata kebahagiaan. Ya, bahagia karena aku masih dapat melihatmu meski hanya bayangan semu dalam mimpi. Kini aku menjadi tiga bagian yang masing-masing memilki karakter yang berlainan. Aku yang terus (terlihat) menikmati hari-hariku, memberikan senyuman dan menyapa setiap orang dihadapanku. Dan aku yang harus terus tersiksa dengan apa yang terus menggerogoti otakku untuk (dapat) memilikimu. Sedang aku yang lainnya, sebagai sosok tegar yang menenangkan aku yang sedih, dan mengolok aku yang (seolah) bahagia.
Kau adalah apa yang selalu aku tulis, namun Aku adalah apa yang tak pernah Kau Baca. Jika dia hanya mimpi aku tak akan rela terbangun dari tidurku. Namun memimpinya pun salah bagiku. Kini aku memaknai keinginannya mengenalkanku dengan saudaranya. Melihatku bersama adiknya mugkin adalah kebahagiaan tersendiri buatnya, adik yang sangat dia sayangi dan seseorang yanng mungkin dia sukai karena terbiasa dengannya. Namun itu adalah percuma, aku adalah orang yang tidak mudah jatuh pada setiap hati. Kalaupun aku harus melakukan itu, aku akan melakukan itu karenanya. Aku membuat kedekatanku dengan wiwin agar aku pun dekat dengannya. Namun, waktu membuatku tersadar tentang kebahagiaannya dengan insan yang ia cintai. Ini membuatku lebih menikmati hari-hariku tanpa harus memikirkan hal konyol yang mustahil terjadi. Sebuah senyum bahagia saat ia menikmati harinya dan saat ia melihatku bersama wiwin adiknya membuat mataku terbuka dan menyadari bahwa cinta itu tak selamanya memiliki. Cinta itu bahagia melihat senyummu.
Keikhlasan membuat aku lebih tenang menikmati hariku. Kami (Iros, wanitanya, aku dan Wiwin) pun sudah seperti keluarga. Namun hal yang tak pernah aku bayangkan ketika wiwin harus menaruh hati padaku. Hari itu untuk kesekian kalinya dia menyatakan perasaannya padaku. Namun, untuk yang kesekian kalinya pula aku harus menolaknya. Semenjak pegikhlasanku tentang orang yang kukagumi, saat itulah aku mulai membuka hati kepada siapa pun. Kini hanya aku dan tuhan yang tau tentang perasaan yang sempat ada untuknya. Mungkin bagi sebagian orang saat itu aku masih ababil yang terus mengatasnamakan ini dengan cinta. Ya, aku rasa itu wajar. Terima kasih telah hadir dalam hidupku.
Nr. 03/31/2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar