Meski hanya Senyuman
Aku cukup Senang
Sosok bayangan menyapa memberiku pesan kebaikan,
seketika sesuatu membasahi pipi ini saat melihat bayangan itu pergi. Aku begitu
tak ingin kehilangannya. Aku terbangun dengan mata merah bukan karena aku
terlalu lama terbaring melepaskan penatnya hari kemarin. Aku terbangun karena
aku harus segera menghapus air mata yang tak seharusnya berada di wajah ini.
Hari-hariku kini kunikmati dengan pagi dengan air mata, air mata kebahagiaan.
Ya, bahagia karena aku masih dapat melihatmu meski hanya bayangan semu dalam
mimpi. Kini aku menjadi tiga bagian yang masing-masing memilki karakter yang
berlainan. Aku yang terus (terlihat) menikmati hari-hariku, memberikan senyuman
dan menyapa setiap orang dihadapanku. Dan aku yang harus terus tersiksa dengan
apa yang terus menggerogoti otakku untuk (dapat) memilikimu. Sedang aku yang
lainnya, sebagai sosok tegar yang menenangkan aku yang sedih, dan mengolok aku
yang (seolah) bahagia.
Kau adalah apa yang selalu aku tulis, namun Aku
adalah apa yang tak pernah Kau Baca. Jika
dia hanya mimpi aku tak akan rela terbangun dari tidurku. Namun memimpinya pun
salah bagiku. Kini aku memaknai keinginannya mengenalkanku dengan saudaranya. Melihatku
bersama adiknya mugkin adalah kebahagiaan tersendiri buatnya, adik yang sangat
dia sayangi dan seseorang yanng mungkin dia sukai karena terbiasa dengannya.
Namun itu adalah percuma, aku adalah orang yang tidak mudah jatuh pada setiap
hati. Kalaupun aku harus melakukan itu, aku akan melakukan itu karenanya. Aku
membuat kedekatanku dengan wiwin agar aku pun dekat dengannya. Namun, waktu
membuatku tersadar tentang kebahagiaannya dengan insan yang ia cintai. Ini
membuatku lebih menikmati hari-hariku tanpa harus memikirkan hal konyol yang
mustahil terjadi. Sebuah senyum bahagia saat ia menikmati harinya dan saat ia
melihatku bersama wiwin adiknya membuat mataku terbuka dan menyadari bahwa
cinta itu tak selamanya memiliki. Cinta itu bahagia melihat senyummu.
Keikhlasan membuat aku lebih tenang menikmati
hariku. Kami (Iros, wanitanya, aku dan Wiwin) pun sudah seperti keluarga. Namun
hal yang tak pernah aku bayangkan ketika wiwin harus menaruh hati padaku. Hari
itu untuk kesekian kalinya dia menyatakan perasaannya padaku. Namun, untuk yang
kesekian kalinya pula aku harus menolaknya. Semenjak pegikhlasanku tentang
orang yang kukagumi, saat itulah aku mulai membuka hati kepada siapa pun. Kini hanya aku dan tuhan
yang tau tentang perasaan yang sempat ada untuknya. Mungkin bagi sebagian orang
saat itu aku masih ababil yang terus mengatasnamakan ini dengan cinta. Ya, aku
rasa itu wajar. Terima kasih telah hadir dalam hidupku.
Nr. 03/31/2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar