Senin, 18 November 2013

Jika Kau adalah Mimpiku, Mimpi itu tak akan menjadi Nyata



Jika Kau adalah Mimpiku, Mimpi itu tak akan menjadi Nyata
Ingin kunamakan ini sebagai kisahku, namun dia tak akan mengerti mengapa dirinya harus ada dalam kisah ini. Dia yang tak akan pernah menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari apa yang selalu aku tulis. Hari-hari yang aku lalui seperti biasa, sama seperti yang lain. Namun ada yang berbeda dariku, aku terus mengimpikan orang yang tak pernah berharap ada dalam mimpiku. Ingin rasanya aku berdiri tepat dihadapannya dan mengatakan apa yang dipikirkan hati ini, dirasakan otak ini yang aku tak tahu apa namanya. Entah siapa yang harus aku salahkan, ketika harus mencintai kau yang telah berpunya. Memikirkan orang yang tak pernah menganggapku ada.
Tak ada awalnya, tak seperti kisah orang pada umumnya. Tak ada akhirnya, sebab aku yang terus berlaku konyol tetap mengaggapnya seperti dulu padahal sekarang dia telah bahagia dengan orang yang dia sayangi. Tak ada perkenalan diantara kami karena katanya dia mengenalku sejak kecil. Sebut saja Iros, lelaki yang usianya terpaut jauh denganku. Sosok dewasa yang memberi banyak nasihat kepadaku, terus teringat jelas dalam otak ini.
Sejak pertemuan itu yang aku tangkap darimu adalah dia mengenalku dari kecil karena dia kenal baik dengan orang tuaku. Mungkin saat itu bagiku tidak terlalu penting untuk aku tau, bahkan sempat terlintas saat itu adalah dia salah satu dari orang yang biasa disebut sok kenal. Ya sudahlah, aku menyesal pernah berpikir begitu karena kini... huft... Seiring berjalannya waktu dan karena sesuatu hal yang tak disengaja kami sering bertemu. Dia mengajarkan banyak hal bermanfaat bagiku, mengingatkanku belajar adalah salah satu dari beberapa nasihatnya. Aku bisa saja mendengarkan kata-katanya padahal aku tau dia bukanlah siapa-siapa bagiku, namun karena apa yang dia berikan untukku selalu membuatku lebih baik maka aku terbiasa mengikuti kata-katanya.
Aku tak tau harus menganggapnya apa, kakak? Ortu? Entah apa itu, aku menghargainya. Kedekatan itu memang tak bermakna apa-apa bagiku, mungkin dia juga. Hingga suatu waktu karena kesibukan masing-masing kami jarang bertemu. Kadang hanya lewat telepon atau pesan singkat dia mengabariku. Mungkin dia pun menghubungiku karena keterpaksaan, atau bisa saja sedang kurang kerjaan. Duhh.. kasian ! Dia sempat menceritakan sosok wanitanya, dia sangat menyanginya. Kupikir dia sudah cukup dewasa untuk menjalin hubungan yang serius, tidak seperti aku yang katanya belum boleh pacaran. Yah, Okelah..
Seperti malam-malam sebelumnya, mengerjakan tugas sekolah salah satu hal yang wajib dikerjakan. Malam itu kuhentikan menatap lembaran kertas dan tumpukan buku dengan keseriusanku, ponselku berdering. K’ Iros menelpon, kusempatkan meluangkan secuil waktuku untuk mengangkat teleponnya. Katanya dia senang ketika tau sebelumnya aku sedang belajar. Dari perbincangan kurang lebih sembilan menit itu, dia sempat mengatakan bahwa aku akan dikenalkan pada adik laki-lakinya yang usianya tak beda jauh denganku saat itu sedang bersama dengannya. “Loh! Katanya gak boleh pacaran? Koq aku mau dikenalin gitu maksudnya apa yahh?” Kataku manjawab pernyataannya. “Kenal bukan berarti pacaran, lagipula apa salahnya menjalin silaturahmi?” tambahnya sambil tertawa. Akupun setuju saja. Namun, dia harus mengakhiri pembicaraan karena katanya dia sedang dalam perjalanan dan memintaku melanjutkan belajarku.
Singkatnya, aku dan adiknya juga saling mengenal dan saling berbagi cerita. Aku pun sempat bertanya apa maksudya aku dikenalkan, mau dijodohkan mungkin? Ya sudahhlah. Wiwin, nama yang kudengar saat dia memanggil adiknya. Pada sebuah acara k’ Iros melihatku, dan menghubungi ponselku untuk menawarkan pulang bersamanya. Selesai acara aku bergegas pulang, bersamanya. Dalam perjalanan tema perbincangan saat itu adalah tentang dia dan hubungannya yang sebentar lagi dia resmikan. Yah, aku tak begitu terkejut, aku tau dari adiknya. Selamat, Aku turut bahagia.
Pesan singkat berisi undangan pernikahannya kubaca diponselku. Entah jemari ini yang tak malas membalas pesannya, atau karena aku tak tau harus berkata apa. Dua hari sebelum pernikahannya dia sempat menghubungiku lagi melalui pesan singkat, katanya dia sedang mempersiapkan diri untuk acara itu. Aku menyampaikan harapanku, semoga dapat menjadi keluarga yang bahagia. Akupun menyadari bahwa dia memang sosok yang terbiasa memperhatikan dan mengingatkan orang-orang disekitarnya. Dia meminta aku mendoakannya dan berharap aku mendapatkan pasangan yang baik.
Hari itu tiba, mungkin adalah hari yang ia nanti-nantikan. Dirumah aku terus membaca pesan itu, hingga pesan itu seolah menarik air mataku. Aku merasa kehilangan. Tak ada lagi yang mengingatkanku, mengajariku, memberi banyak senyum dihariku, aku sadar tentang perasaan ini. Yang aku sesali kenapa aku baru menyadari tentang perasaan ini ketika dia telah benar-benar menjadi milik orang lain. Aku mengalaminya, ini bahkan lebih dramatis dibanding ketika aku menonton film telenovela yang pemeran utamanya terus tersiksa. Ya, aku benar merasa kehilangan.
Kini dia benar-benar telah pergi, yang menyayat hatiku adalah ketika aku harus tampak bukan seperti orang yang kau kenali. Kau asing. Kau yang kukenal telah menghilang. Hingga aku harus (seolah) menyadari bahwa kita tak pernah saling mengenal. Dan ketika pagi kubangun dengan tetesan air mata sebab hadirmu dimimpiku, aku harus segera menghapusnya. Aku bukan siapa-siapa, sampai memimpikanmu pun aku tak ingin. Karena jika kau adalah mimpiku, mimpi itu tak akan jadi nyata.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar