Jika Kau adalah
Mimpiku, Mimpi itu tak akan menjadi Nyata
Ingin kunamakan ini sebagai kisahku, namun dia tak
akan mengerti mengapa dirinya harus ada dalam kisah ini. Dia yang tak akan
pernah menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari apa yang selalu aku tulis.
Hari-hari yang aku lalui seperti biasa, sama seperti yang lain. Namun ada yang
berbeda dariku, aku terus mengimpikan orang yang tak pernah berharap ada dalam
mimpiku. Ingin rasanya aku berdiri tepat dihadapannya dan mengatakan apa yang
dipikirkan hati ini, dirasakan otak ini yang aku tak tahu apa namanya. Entah
siapa yang harus aku salahkan, ketika harus mencintai kau yang telah berpunya.
Memikirkan orang yang tak pernah menganggapku ada.
Tak ada awalnya, tak seperti kisah orang pada
umumnya. Tak ada akhirnya, sebab aku yang terus berlaku konyol tetap
mengaggapnya seperti dulu padahal sekarang dia telah bahagia dengan orang yang dia
sayangi. Tak ada perkenalan
diantara kami karena katanya dia mengenalku sejak kecil. Sebut saja Iros,
lelaki yang usianya terpaut jauh denganku. Sosok dewasa yang memberi banyak
nasihat kepadaku, terus
teringat jelas dalam otak ini.
Sejak pertemuan itu yang aku tangkap darimu adalah dia
mengenalku dari kecil karena dia kenal baik dengan orang tuaku. Mungkin saat
itu bagiku tidak terlalu penting untuk aku tau, bahkan sempat terlintas saat
itu adalah dia salah satu dari orang yang biasa disebut sok kenal. Ya sudahlah,
aku menyesal pernah berpikir begitu karena kini... huft... Seiring berjalannya
waktu dan karena sesuatu hal yang tak disengaja kami sering bertemu. Dia
mengajarkan banyak hal bermanfaat bagiku, mengingatkanku belajar adalah salah
satu dari beberapa nasihatnya. Aku bisa saja mendengarkan kata-katanya padahal
aku tau dia bukanlah siapa-siapa bagiku, namun karena apa yang dia berikan
untukku selalu membuatku lebih baik maka aku terbiasa mengikuti kata-katanya.
Aku tak tau harus menganggapnya apa, kakak? Ortu? Entah
apa itu, aku menghargainya. Kedekatan itu memang tak bermakna apa-apa bagiku,
mungkin dia juga. Hingga suatu waktu karena kesibukan masing-masing kami jarang
bertemu. Kadang hanya lewat telepon atau pesan singkat dia mengabariku. Mungkin
dia pun menghubungiku karena keterpaksaan, atau
bisa saja sedang kurang kerjaan. Duhh.. kasian ! Dia
sempat menceritakan sosok wanitanya, dia sangat menyanginya. Kupikir dia sudah
cukup dewasa untuk menjalin hubungan yang serius, tidak seperti aku yang
katanya belum boleh pacaran. Yah, Okelah..
Seperti malam-malam sebelumnya, mengerjakan tugas
sekolah salah satu hal yang wajib dikerjakan. Malam itu kuhentikan menatap
lembaran kertas dan tumpukan buku dengan keseriusanku, ponselku berdering. K’
Iros menelpon, kusempatkan meluangkan secuil waktuku untuk mengangkat
teleponnya. Katanya dia senang ketika tau sebelumnya aku sedang belajar. Dari
perbincangan kurang lebih sembilan menit itu, dia sempat mengatakan bahwa aku
akan dikenalkan pada adik laki-lakinya yang usianya tak beda jauh denganku saat
itu sedang bersama dengannya. “Loh! Katanya gak boleh pacaran? Koq aku mau
dikenalin gitu maksudnya apa yahh?” Kataku manjawab pernyataannya. “Kenal bukan
berarti pacaran, lagipula apa salahnya menjalin silaturahmi?” tambahnya sambil
tertawa. Akupun setuju saja. Namun, dia harus mengakhiri pembicaraan karena
katanya dia sedang dalam perjalanan dan memintaku melanjutkan belajarku.
Singkatnya, aku dan adiknya juga saling mengenal dan
saling berbagi cerita. Aku pun sempat bertanya apa maksudya aku dikenalkan, mau
dijodohkan mungkin? Ya sudahhlah. Wiwin, nama yang kudengar saat dia memanggil
adiknya. Pada sebuah acara k’ Iros melihatku, dan menghubungi ponselku untuk
menawarkan pulang bersamanya. Selesai acara aku bergegas pulang, bersamanya. Dalam
perjalanan tema perbincangan saat itu adalah tentang dia dan hubungannya yang
sebentar lagi dia resmikan. Yah, aku tak begitu terkejut, aku tau dari adiknya.
Selamat, Aku turut bahagia.
Pesan singkat berisi undangan pernikahannya kubaca
diponselku. Entah jemari ini yang tak malas membalas pesannya, atau karena aku
tak tau harus berkata apa. Dua hari sebelum pernikahannya dia sempat
menghubungiku lagi melalui pesan singkat, katanya dia sedang mempersiapkan diri
untuk acara itu. Aku menyampaikan harapanku, semoga dapat menjadi keluarga yang
bahagia. Akupun menyadari bahwa dia memang sosok yang
terbiasa memperhatikan dan mengingatkan orang-orang disekitarnya. Dia meminta aku mendoakannya dan berharap aku mendapatkan pasangan yang
baik.
Hari itu tiba, mungkin adalah hari yang ia
nanti-nantikan. Dirumah aku terus membaca pesan itu, hingga pesan itu seolah
menarik air mataku. Aku merasa kehilangan. Tak ada lagi yang mengingatkanku,
mengajariku, memberi banyak senyum dihariku, aku sadar tentang perasaan ini.
Yang aku sesali kenapa aku baru menyadari tentang perasaan ini ketika dia telah
benar-benar menjadi milik orang lain. Aku mengalaminya, ini bahkan lebih
dramatis dibanding ketika aku menonton film telenovela yang pemeran utamanya
terus tersiksa. Ya, aku benar merasa kehilangan.
Kini dia benar-benar telah pergi, yang menyayat
hatiku adalah ketika aku harus tampak bukan seperti orang yang kau kenali. Kau
asing. Kau yang kukenal telah menghilang. Hingga aku harus (seolah) menyadari
bahwa kita tak pernah saling mengenal. Dan ketika pagi kubangun dengan tetesan
air mata sebab hadirmu dimimpiku, aku harus segera menghapusnya. Aku bukan
siapa-siapa, sampai memimpikanmu pun aku tak ingin. Karena jika kau adalah
mimpiku, mimpi itu tak akan jadi nyata.
***